Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Aceh

Hamzah Fansuri: Simbol Peradaban Kota Subulussalam

Kategori : Sejarah Senin, 11 Januari 2016 - Oleh opt3

Oleh Muhajir Al fairusy

“…Kenal diri mu hai anak Jamu
Jangan lupa akan diri kamu
Ilmu hakikat yang ia kau ramu
Supaya terkenal ‘ali adamu.” (Hamzah Fansuri)

Nama Hamzah Fansuri begitu kesohor di dunia Melayu, terutama di tanah kelahirannya Aceh. Pada 23 kabupaten/kota yang dihuni oleh hampir lima juta umat manusia di Aceh, nama ulama ini sering dikenang sebagai sufi dan penyair besar pada zamannya, yang kuat mengisi lembaran narasi pada buku-buku sejarah klasik Aceh di rak-rak perpustakaan . Syair pembuka diskusi ini, diklaim milik dari Hamzah Fansuri, ia menulis beberapa syair indah, di antaranya paling terkenal adalah syair perahu, sebagai kalimat pengingat dan nasehat bagi manusia dalam menempuh kehidupan di dunia.

Namun demikian, kehidupan Hamzah Fansuri tergolong misteri, sulit sekali melacak keotentikan biografi utuh sejarah tokoh ini, dari tempat lahir hingga makamnya. Apalagi, ia tak menyebut secara eksplisit tempat kelahirannya, hanya memberi keterangan personifikasi yang dibumbui oleh bahasa sastra, hingga menyulitkan penafsir sejarah untuk menentukan keterangan tersebut secara tepat. Makamnya saja, sebagai prasasti yang dibanggakan dan diperebutkan untuk dikunjungi, memunculkan tiga klaim sejarawan, kesemuanya disinyalir sebagai prasasti milik Hamzah Fansuri, diantaraya di Ujong Pancu Aceh Besar, di Mekkah dan di Kampung Oboh, Kecamatan Rundeng, Subulussalam.

Keberadaan Makam Hamzah Fansuri, menjadi kebanggaan sejarah bagi masyarakat Kota Subulussalam. Belakangan, saya mendapat informasi, bahwa pemerintah setempat telah merelokasi anggaran sebayak 7 Miliyar-upaya pengembangan situs sejarah tersebut. perhatian pemerintah Kota Subulussalam dalam upaya pengembangan kota mereka memang tampak serius, ini dibuktikan dengan kencangnya geliat ekonomi dan aktifitas warga di kota yang baru dimekar tersebut, dan melangkah lebih cepat meninggalkan kabupaten induk mereka-Singkil.

Pada 22 Desember 2015, atas kebaikan seorang rekan yang menetap di Subulussalam, saya diajak berkunjung ke Makam Hamzah Fansuri di Kampung Oboh. Menuju ke Oboh butuh waktu +- 60 menit perjalanan darat dari pusat Kota Subulussalam, melewati rimbunan sawit, dan beberapa perkampungan yang tampak baru saja dihantam banjir tahunan-meluapnya air sungai Lae Soraya. Beberapa warga yang rumahnya di pinggir jalan kami lalui, terlihat sibuk membersihkan pekarangan rumah mereka dari sisa lumpur banjir. Melewati beberapa lahan perkebunan sawit, kami juga kerap bertemu beberapa laki-laki dewasa yang barus saja memungut tandan sawit di kebun mereka. Rekan saya yang mengendarai kendaraan, sekali-kali mengangkat tangan menyapa penduduk yang ada di pinggiran jalan, “Mengkade tua” demikian teriaknya, orang yang dipinggir jalan sambil tertawa menampakkan gigi putih mereka menjawab dengan bahasa lokal, yang tak saya pahami. Belakangan, saya diberitahu arti sapaan tersebut berart “sedang apa.” Kata “tua” adalah ucapan halus dan hormat bagi mereka yang diangga lebih dewasa.

Memasuki wilayah Kampung Oboh, sebelah kiri jalan, terpampang gapura bertulis keterangan Makam Hamzah Fasnuri. Kendaraan rekan saya, dituntun memasuki jalan pinggiran makam, sebuah sungai besar di Kampung Oboh kini terpampang di hadapan kami, tepat di pinggir makam. Bersebelahan dengan makam, Kampung Oboh hadir dengan corak memanjang mengikuti garis pinggi sungai. Beberapa batang pohon kelapa tampak menjulang perkasa, menambah keindahan lukisan kampung. Permukaan sungai Lae Soraya di Kampung Oboh-Rundeng, tampak tenang berwarna kecoklatan-namun terkesan atmosfer mistik. Oboh, sebuah kampung paling ujung Kota Subulusssalam, yang juga disebut-sebut sebagai jalan tembus ke Buloh Sema, hanya berpenduduk 60 KK, memilki pengaruh budaya Batak yang kuat. Lae Soraya terbentang luas, hulunya ke Kuta Canee sebut warga sekitar.

Tiba di Makam Hamzah Fansuri, tampak sepi, sepertinya hanya saya penziarah hari ini. Seorang khadam datang menghampiri, menyapa, lalu saya dibawa keliling oleh khadam penjaga makam sang sufi terkemukaka di Aceh tersebut. Sang khadam memakai jubah hitam, berpeci lusuh dan berjenggot sejengkal. Ia bawa saya memasuki sebuah saung besar bak rumah, disikapnya kain hijab besar berwarna hijau yang menutupi ruangan bak kamar. Sebuah makam tinggi semeter dari permukaan tanah berukuran panjang, dan luas kini tampak di hadapan saya. Di atasnya tanah berpasir, dua kerang besar dari laut melandai di masing-masing sudut. Khadam mempersila saya membasuh muka dengan air dalam kerang besar. “Ini makam Hamzah Fansuri, dan itu (sambil menunjuk beberapa makam di luar) makam kerabatnya” ucap Khadam, saya menyimak apa yang dibicarakan Khadam. Khadam mengajak saya berkeliling makam, yang luasnya hampir 1/4 lapangan bola kaki. Puas berkeliling, saya pamit. Di luar makam, saya kembali menatap Lae Soraya, lalu memilih berkeliling Kampung Oboh. Seorang warga datang, memberikan dokumen sejarah Hamzah Fansuri, tebal 50 halaman, ditulis pada tahun 1993. Dari sampul dokumen berbentuk makalah tersebut, saya dapat mengenali penulis, bernama S. Ramilus dengan judul dokumen “Syekh Hamzah Fansuri : Ulama Besar dan Penyair Aceh Abad Ke-17.”

Kadong Sinaga, seorang laki-laki paruh baya, sudah hampir 7 tahun pernah menjaga komplek makam luas dekat rumahnya tersebut, yang berbatasan langsung dengan Lae Soraya (“Lae” dalam bahasa setempat berarti sungai). Kadong, mempersilakan saya masuk ke rumahnya, lalu menyeruput teh yang dibuat istrinya, yang duduk di pintu memakai tengkuk kain khas Batak di kepalanya-melihat kami bercakap-cakap hampir setengah jam. Penziarah tak pernah sepi sebut warga sekitar, saya mengangguk saja penanda kagum. “Paling banyak dari Tanah Batak dan Singkil” kata Kadong pada saya, kadang tradisi kenduri kambing bisa berlangsung berhari-hari, “saya sampai jenuh makan kambing” ucap Kadong lagi sambil tertawa-bersamaan keluarnya asap rokok yang dihisapnya. Kami menyeruput teh lagi, Kadong melanjutkan ceritanya-saya mendengar. “Makam ini, ada hubungannya dengan makam Syekh Mahmud di Barus-panjang ceritanya”-saya kembali mendengar cerita sejarah yang memiliki ruh mitologi tersebut. Menurut Kadong dan warga sekitar, meskipun banjir tahunan datang, namun komplek makam tak pernah tersentuh banjir. Saya bertanya dengan sedikit nyentrik kebenaran makam tersebut milik Hamzah Fansuri pada warga yang mulai berdatangan ke rumah Kadong, dan bergabung dengan saya. Mereka umumnya menjawab dengan kayakinan saja, ditambah cerita seorang ulama (yang diyakini Hamzah Fansuri) datang tempo dulu ke Kampung Oboh. Dia datang dari Barus, membawa sekaleng padi. Kemudian, padi ditanam di Kampung Oboh, begitu panen, hasilnya tetap sekaleng padi.

Setelah hampir satu jam di rumah Kadong, saya minta pamit, karena hari keburu senja, sinar matahari mulai redup. Di luar rumah Kadong, anak-anak kecil tak berpakaian merapat ke saya-sambil tersenyum, saya abadikan wajah polos mereka dengan jepretan kamera yang selalu saya tenteng di tangan. Di tepi sungai, perempuan-perempuan bak inang-inang saya coba hampiri, dari jarak 10 meter mereka menatap saya sambil tersenyum, dan berteriak dengan bahasa lokal yang tak saya pahami, saya menduga mereka bertanya “dari mana asal saya.” Mata saya kembali saya satukan dengan lensa kamera, membidik dan mengabadikan aktifitas perempuan bertradisi Batak tersebut, yang masih menyeka cucian mereka dengan air sungai, mereka tampak malu-malu sambil menutup wajah dengan tangan.

Saat akan kembali ke Kota Subulussalam. Saya membatin, melihat letak makam dan kesan atmosfir tradisi, bahwa “Kehidupan begitu singkat, dan para sufi menabal nama di permukaan tanah, yang menghantar banyak manusia setelahnya meraup berkah, terutama berkah gelar akademik dari menulis tutur fokhlore mereka.” Dari nama seorang Hamzah Fansuri, telah melahirkan banyak intelektual sejarah, yang berdiaspora seantero Asia dan Eropa.

 

Sumber: http://maa.acehprov.go.id/

 

Last Update Generator: 22 Oct 2017 12:00:33